Kadang aku ingin teriak dan berontak sama Tuhan, "kenapa aku harus terlahir sebagai transgender ??".
Saat aku berumur 9 tahun, aku baru menyadari keadaanku yang berbeda dari kebanyakan anak-anak lainnya. Dimana aku yang terlahir sebagai anak perempuan seperti yang kedua orangtuaku katakan seharusnya aku merasa senang bermain masak-masakan, membeli boneka Barbie untuk didandani, memakai rok dan aksesoris berwarna warni yang semuanya serba girly. Tapi tidak dengan aku, rambutku panjang tidak terawat karena aku malas keramas. Tubuhku tinggi,kurus dan hitam seperti tiang listrik. Keadaan diriku dan karakter aku samasekali tidak mencerminkan kefeminiman yang seharusnya dimiliki oleh seorang anak perempuan.
Dan aku samasekali tidak punya teman perempuan, bahkan tidak ada anak perempuan yang mau bermain dengan aku. Satu-satunya perempuan yang aku miliki dihidupku hanyalah ibuku.
Beliau sungguh sangat cantik,menarik dan halus tutur katanya. Sangat berbeda jauh dengan aku. Walaupun ibuku selalu mengajarkan aku untuk menguncir rambutku yang panjang dan membelikan aku gaun yang sangat cantik, namun entah kenapa aku merasa tidak pantas dan tidak cocok dengan semua itu. Ada sesuatu didalam diriku yang membuat aku menolak semuanya ini. Entah apa aku sendiri tidak paham saat itu.
Sampai suatu hari aku menemukan jawaban yang sesungguhnya. Ketika tanpa sengaja aku melihat temanku yang pria sedang buang air kecil dekat pohon tempat kami bermain,aku sangat terkejut karena menyadari bahwa aku memiliki dua kelamin yang berbeda sekaligus ada didalam diriku.
Kemudian aku berlari pulang kerumah saat itu untuk bertanya kepada ibuku, " Ibu mengapa aku memiliki penis dan juga vagina tapi tidak dengan Wawan", aku terus bertanya sambil menangis, "Kenapa Wawan tidak punya vagina juga sama seperti aku? Ibu bilang kita semua sama tapi apa yang hari ini aku lihat berbeda?. " Mereka yang tidak normal atau aku yang tidak normal?" tanyaku kepada ibu. Saat itu aku sangat terkejut melihat ibuku meneteskan airmata yang aku tidak pernah lihat keluar dari mata ibuku.
Ibu hanya bisa tertunduk sambil berusaha menahan airmata tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hatiku hancur melihat ibu,sosok yang selama ini aku anggap kuat dan tegar ketika itu berurai airmata. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat itu. Didalam diriku aku menuntut jawaban dari ibuku tapi disaat yang sama aku tidak tega melihat ibuku menangis.
Aku hanya bisa berkata, "Sudahlah tidak usah dijawab bu". Suatu hari nanti aku akan mencari tahu diriku yang sebenarnya kataku dalam hati.
Saat aku hendak beranjak pergi meninggalkan ibuku, tiba-tiba ibuku menarik tanganku dan memeluk aku dengan erat sambil menangis tersedu-sedu. Hanya kata "Maaf" yang saat itu terucap dari bibir ibuku.
8 tahun berlalu dari kehidupanku tanpa ada jawaban dari ibuku. Aku juga tidak berusaha memaksa ibuku untuk menjawab semua itu, walaupun hal ini sungguh sangat menyiksa hidupku.
Aku berusaha untuk mencari tahu melalui internet, aku buka banyak website dan artikel yang menyatakan keadaan diriku sebenarnya bahwa aku terlahir sebagai " Transgender ".
Tidak bisa terbayangkan sebelumnya bahwa aku harus terlahir seperti ini. Siapa yang harus aku salahkan, orangtuaku?, Tuhan? atau apa?. Haruskah aku mengutuki diriku sendiri atau orangtuaku?
Sungguh aku tidak paham dan sungguh aku terluka hidup seperti ini.
Perubahan mulai terjadi dalam diriku, aku menyukai teman perempuanku. Satu-satunya teman perempuan yang paling mengerti aku dan memahami kondisi aku. Namanya Sisil. Tanpa aku sadari aku jatuh cinta kepada Sisil. Aku berusaha menyangkal perasaanku karena aku berpikir aku perempuan dan Sisil juga perempuan bagaimana mungkin aku menyukai sesama perempuan.
Bukan hanya perasaan di dalam diriku saja yang berubah tetapi juga penampilan fisik aku begitupun kegiatan aku sehari-hari. Aku lebih memilih sekolah di STM jurusan mesin dimana aku bisa pergi ke sekolah tanpa menggunakan rok. Anehnya juga aku tidak memiliki payudara seperti anak perempuan lainnya. Payudaraku tidak bertumbuh. Dan aku tidak mengalami menstruasi sampai usiaku 17 tahun walaupun aku memiliki vagina.
Penampilanku benar-benar seperti anak laki-laki sehingga banyak orang yang menyangka aku memang anak laki-laki. Mereka tidak tahu jika aku terlahir sebagai apa yah, aku tidak bisa menyebutkan diriku apa saat ini karena aku sendiri juga bingung, aku harus menyebut diriku sendiri dengan sebutan laki-laki atau perempuan?. Aku juga tidak tahu. Aku kehabisan kata-kata jika aku harus menyebutkan identitas aku yang sesungguhnya. Maka aku pun menyebut diriku sendiri " Abu-abu ".
Apakah ini pilihanku untuk terlahir sebagai "abu-abu"?. Atau pilihan orangtuaku?. Atau memang Tuhan punya rencana sendiri atas hidupku sehingga aku dilahirkan sebagai "Abu-abu".
Tidak ada seorangpun yang mau dilahirkan dalam kondisi atau keadaan seperti yang aku alami. Dan akü juga masih mencari identitas aku sesungguhnya. Kemana dan akan menjadi seperti apa aku nantinya. Dan gender apa yang akan aku pilih untuk hidupku, aku masih mencari.
Saat ini aku hanya bisa menjalani hidupku dalam keadaan "Abu-abu".
Terima kasih buat temans yang sudah mau membaca tulisan pendekku. Tulisan ini aku buat tidak untuk menyinggung perasaan siapapun juga.
Love, Peace and Living Harmony in Diversity #MariaCurry#
|
Comments
Post a Comment